KABA Festival 3, METAdomus Tampilkan "Aka Bagaluik" di Pentas Perdana

METAdomus tampil dalam sebuah pertunjukan
METAdomus tampil dalam sebuah pertunjukan (ist)

PADANG, KLIKPOSITIF - KABA Festival edisi ketiga yang bakal digelar pada 17 November nanti akan tampil dengan wajah lebih segar. Jika pada dua tahun sebelumnya para penampil dalam pesta seni pertunjukan ini hanya berasal dari Sumbar, tahun ini ada sebuah inovasi untuk melebarkan festival ini dilakukan. Direktur Festival Angga Djamar mengatakan peserta KABA tahun ini datang dari berbagai daerah di Indonesia.

"Tidak menutup kemungkinan, tahun depan akan ada peserta dari luar negeri,” kata Angga Djamar," Jumat 11 November 2016.

baca juga: Pekan Komponis Minang Rantau Selesai Dihelat, Ini Ide Gagasannya

Sebagai penampil pada malam pertama KABA Festival, METAdomus dari Jakarta diminta untuk menampilkan sebuah komposisi musik . Pada pertunjukan kali ini komposer, Syahrial ‘Tando’ akan menampilkan komposisi dengan judul Aka Bagaluik. Sebuah aransemen musik khas METAdomus, yang hening dan penuh kontemplasi.

“Aka atau akal adalah elemen yang sangat penting untuk menjalankan identitasnya bagi orang Minangkabau. Banyak pepatah-petitih yang menekankan akan pentingnya akal. Akal bagi orang Minangkabau tidak hanya sekedar dimiliki dan dapat dijalankan dengan baik, namun lebih dari itu,” kata pria kelahiran Kayu Aru, Solok ini.

baca juga: Andre Rosiade Bantu Modal Penjual Kacang Ramang dan Jagung Keliling

Dia menjelaskan akal adalah satu dari dua elemen penting dengan rasa. Akal dan rasa harus sesuatu yang berimbang dan sejalan. Raso dibaok naiak, pareso dibaok turun (rasa dibawa naik, periksa dibawa turun), pepatah tersebut menggambarkan pentingnya keseimbangan antara akal dan rasa.

Syahrial memimpikan seorang Minangkabau di kehidupan sosial bermasyarakat harus sadar dengan pentingnya akal. Tidak hanya sekedar dijalankan dan digunakan, namun juga harus bisa menguasai akal tersebut, harus bisa bermain dengan akal, karena di sanalah letak kecerdikan orang Minangkabau, tahimpik ndak di ateh, takuruang ndak di lua (terhimpit hendaknya di atas, terkurung hendaknya di luar).

baca juga: Andre Rosiade Bantu Sopir Angkot yang Tangannya Patah dan Anaknya Sakit

METAdomus didirikan Syahrial dan kawan-kawan pada tahun 2003. Diperkenalkan pada pentas perdananya di Goethe Hous, pada Desember 2003 di Jakarta. METAdomus baru kemudian menampilkan judul karyanya pada Juni 2004 di Festival Seni Surabaya, dengan judul Suara Hening. METAdomus lahir di Jakarta, walaupun lahir di negeri orang, METAdomus tetap berisikan orang-orang berdarah Minangkabau.

Penulis: Ramadhani