Adele, Musik dan Politik Anti Trump

Adele
Adele (vogue.com)

KLIKPOSITIF - Adele, penyanyi solo asal Inggris itu 26 Oktober lalu menggelar konser di Miami, Amerika Serikat. Di tengah pertunjukannya diva pop kelas dunia itu menyebut nama Hillary Clinton. Di hadapan ribuan penggemarnya di Amerika Adele menyatakan dukungan penuhnya buat Hillary.

"Saya mendukung Hillary 100 persen," kata Adel di tengah konser.

baca juga: Turuti Permintaan Adele, Spotify Hapus Fitur Shuffle dari Aplikasinya

Pernyataan Adele adalah sikap politik, meski dia tidak memiliki hak pilih dalam pertarungan antara Hillary dan Trump di Amerika namun pernyataannya akan menjadi dorongan besar bagi para penggemarnya di tanah para pemimpi tersebut. Adele dan Hillary adalah simbol para wanita yang berhasil tampil sebagai sosok wanita mandiri dan berhasil.

Adele, sama halnya dengan Hillary yang bakal mencatat sejarah jika berhasil tampil menjadi presiden pertama AS adalah simbol wanita zaman modern yang telah melampaui dominasi lelaki atas perempuan. Mereka adalah lambang kesetaraan gender, dimana lelaki dan perempuan sama dan setara di segala bidang kehidupan. Semangat yang selalu dikobarkan dalam api demokrasi.

baca juga: Particular Industrial Sounds Warnai Kancah Musik Indonesia

Dalam konsernya itu Adele menyatakan dengan lantang jika dirinya sangat anti-Trump. Satu hal yang menurut Adele harus dilakukan para pemilik suara di Amerika adalah dengan tidak memilih Trump.

Donal Trump, pebisnis dan pesohor Hollywood yang telah merintis jalan panjang menuju Gedung Putih ini memang sering tersandung dengan omongannya sendiri. Dalam beberapa kasus Trump terlibat pelecahan terhadap perempuan. Perkataannya yang sering merendahkan wanita membuat dirinya dinlai tidak layak menjadi bos baru di Oval Office.

baca juga: Ini Dampak Buruk Penggunaan Headphone Terus Menerus, Ikuti Aturan 60-60

Hillary menyuarakan perlawanan atas segala tindakan yang merendahkan wanita. Dan kini Adele penyanyi wanita tersukses pada zaman ini ikut mendukungnya. Semangat perlawanan atas dominasi dan kesewenang-wenangan atas perempuan, itu yang mereka suarakan. Dan Trump adalah sosok yang kemudian menjelma musuh bersama.

Trump bisa menjadi awal dari persahabatan antara Adele dan Hillary. Kandidat pertama presiden wanita Amerika itu mengaku senang menerima dukungan dari Adele menjelang hari pemilihan yang makin dekat. Sebelumnya Adele telah menunjukkan resistensinya kepada Trump. Sejak masa kampanye dimulai Adele melarang lagu-lagunya diputar dalam setiap acara kampanye Trump. Hal ini terjadi karena ternyata Trump memang senang memainkan beberapa lagu Adele dalam program kampanyrnya,, salah satunya Rolling in the Deep.

baca juga: Penyanyi Sekaligus Legenda Pembawa Acara "Berpacu Dalam Melodi" Meninggal Dunia, Tantowi Yahya: Digedor Pagarnya Nggak Ada yang Nyahut

Penulis: Ramadhani