Saluang Panjang Si Pengusir Sepi dari Sungai Pagu

"Kesenian Saluang Panjang ini diilhami dari sebuah Saluang Tungku yang pada dahulunya digunakan untuk meniup api di tungku dengan ukuran yang panjang"
Safriadi atau Mak Katik Friadi sedang memainkan Saluang Panjang, Sungai Pagu, Solok Selatan (KLIKPOSITIF/Vendo Olvalanda S)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Saluang merupakan salah satu alat musik asal Minangkabau yang sering digunakan di berbagai kegiatan adat, permainan anak nagari atau sekedar pelipur lara sepi masyarakat Minang pada saat beraktivitas sehari-hari.

Namun Saluang (Seruling.red) memiliki banyak ragam ukuran, di suatu daerah ada sebuah kearifan dimana Saluang yang dimainkan hanya berukuran kecil. Namun beda hal nya di Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan. Di daerah ini kesenian memainkan Saluang dengan ukuran yang panjang, dan hal ini sudah menjadi tradisi.

Saluang panjang sendiri merupakan salah satu keberagaman kesenian musikal di Minangkabau. Menurut pelakunya, Safriadi, kesenian Saluang Panjang ini diilhami dari sebuah saluang (pada dahulunya digunakan untuk meniup api di tungku) dengan ukuran yang panjang.

Berangkat dari kreatifitas masyarakat, saluang panjang ini kemudian berubah menjadi instrumen musik. Namun meskipun dengan mode yang sama dengan saluang biasanya. Ternyata memainkan saluang panjang ini memiliki karakteristik tersendiri.

"Berbeda dari segi bentuk, ukuran, jumlah lubang nada, tangga nada, dan juga cara memainkannya," kata Safriadi.

Saluang panjang mempunyai tiga buah lobang nada, dari tiga lobang itu akan menghasilkan empat tingkatan nada serta memiliki empat jenis warna bunyi sesuai dengan tingkatan oktafnya.

Bentuk alat musik tradisi ini juga beragam, ada yang memiliki ruas adan ada pula yang tidak memiliki ruas, tetapi memiliki reed sebagai penghasil bunyi dengan menggunakan daun tebu atau daun kelapa atau negatif kamera foto. Jadi, sumber penghasil bunyinya lebih mirip dengan Suling Sunda, atau seperti Degung Sunda, Jawa, dan Bali.

Kesenian memainkan Saluang Panjang ini pada awalnya dimainkan masyarakat Minangkabau khususnya Sungai Pagu dulunya saat mengembalakan ternak. Kemudian berkembang menjadi tradisi anak muda dan menjadi bagian aktifitas dari pertanian.

"Sebagai ... Baca halaman selanjutnya