Istirahatlah Kata-kata, Membaca Sejarah dan Sinematografi

"Kelambatan atau slowness memang menjadi teknik utama pada film-film macam ini. Sebuah upaya untuk memberi tekanan melalui gambar"
Widji Tukul diperankan olles aktor teater Garasi Gunawan Maryanto (KLIKPOSITIF/Ramadhani)

PADANG,KLIKPOSITIF-Istirahatlah Kata-kata, film fiksi biopic tentang Widji Tukul, seniman dan aktivis pergerakan 98 menjadi perbincangan dalam sebuah pemutaran film yang digelar Rel Air Cinema Jumat, 20 Oktober 2017. Unit kegiatan mahasiswa x yang fokus pada  film ini menggelar nonton bersama film lalu kemudian membincangkan dalam sebuah forum diskusi di Fakultas Ilmu Budaya  Universitas Andalas.

Istirahatlah Kata-kata (IKK) mengangkat kisah hidup seniman dan penyair Widiji tukul yang dikejar aparat setelah terlibat dalam sejumlah aksi demonstrasi mendukung lengsernnya rezim Soerharto. Film garapan sutradara Yosep Anggi Noen memenggal kisah hidup Widji.

Dalam film ini jalan hidup Widji Tukul dimulai saat dia mulai dicari dan diburu aparat. Pelarian yang memaksanya harus terus bergerak hingga lari sampai ke Pontianak.

Adi Osman, sineas muda Sumbar, dalam diskusi menyebutkan film IKK digarap dengan pendekatan  yang dikenal dengan istilah Slowness Cinema . Konsep yang membuat film berjalan lambat. Pergerakan antar adegan juga begitu lambat. Menurut Adi, hal ini dibuat sutradara untuk memunculkan tekanan emosional. Sensasi psikologis Widji yang ingin dibagi sutradara pada para penontonnya.

“Kelambatan atau slowness memang menjadi teknik utama pada film-film macam ini. Sebuah upaya untuk memberi tekanan melalui gambar,” ujar anggota Rel Air Cinema ini.

Ketakutan dan tekanan paranoid Widji, kata Adi lagi, dieksplorasi menjadi gambar-gambar yang lambat. Teknik pengambilan gambar yang didominasi oleh gambar stiil dan long takes yang membuat efek film menjadi lambat.

Pembicara lain dalam diskusi, S Metron M melihat film ini dari perspiktif sejarah. Film biopic, bagaimana pun, harus dimulai dengan riset dan data yang kuat. Sedang IKK hanya memotret Widji secara setengah-setengah.

“Tidak ada adegan dalam film ini yang bisa membuat kita melihat Widji utuh sebagai ... Baca halaman selanjutnya