Budaya Minangkabau dalam Film, Ini Kata Sineas Sumbar

"Hampir seluruh film bertema Minangkabau tidak diproduksi oleh sineas dari Sumatera Barat"
ilustrasi: salah satu adegan dalam film Surau dan Silek karya Arief Malinmudo (youtube.com)

PADANG,KLIKPOSITIF-Nilai-nilai budaya Minangkabau mulai disorot oleh industri perfilman tanah air. Masih segar dalam ingatan bagaimana Silek Minangkabau dan filosofi rantau digarap oleh sutradara Gareth Evans dalam sebuah film aksi dengan judul Merantau pada 2009. Sejak itu, konten Minangkabau seperti menjadi perhatian bagi pelaku industri film.

Film Merantau menjadi pintu masuk untuk film dengan latar Minangkabau lainnya. Sebut saja seperti Kapal Van Der Wick, Di Bawah Lindungan Kabah, Negeri 5 Menara, dan Me Vs Mommy. Yang paling baru adalah film Surau dan Silek garapan sutradara Arief Malinmudo. Isu budaya dan lokalitas menjadi jualan baru di industri film.

Sineas muda dari Padang Arif Rizki berpendapat film dengan tema Minangkabau ini adalah kabar baik bagi perfilman Indonesia. Ini dampak peralihan selera pasar dari sebelumnya sangat urban, atau Jakarta sentris kepada keberagaman budaya dan tradisi di Indonesia. Namun yang menjadi sorotan tidak hanya Minangkabau saja. Daerah-daerah Timur Indonesia juga mendapat perhatian para sineas.

"Film Cahaya dari Timur adalah salah satunya. Seniman dan pasar mulai bisa melihat keunikan-keunikan lain dari berbagai daerah di Indonesia, selain kenyataan bahwa budaya Minangkabau juga merupakan objek yang sangat menarik untuk disajikan dalam bentuk film," ujarnya saat diwawancarai Jumat, 13 Oktober 2017.

Hanya saja, kata Arif, seluruh film bertema Minangkabau tidak diproduksi oleh sineas dari Sumatera Barat. Mayoritas seluruh film bertema Minangkabau dibuat oleh rumah produksi dari Jakarta. Kalaupun seniman Minangkabau terlibat, itu hanya di bagian kecil yang sesunggunya tidak berdampak banyak kepada film itu sendiri.

"Akibatnya, kita sering menemukan kejanggalan dalam film-film tersebut, karena kreatornya menggunakan kacamata yang berbeda. Kedua, film-film itu tidak menyentuh dasar persoalan masyarakat Minangkabau, karena hanya bercerita tentang eksotisme Minangkabau ... Baca halaman selanjutnya