Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa, Heru Joni Putra dan Tradisi Lirisme Minangkabau

"Esha menyebut Heru mengikat secara longgar puisinya dengan tradisi lirisme"
penyair Esha Tegar Putra dalam diskusi Anda Bertanya Badrul Mustafa Menjawab (KLIKPOSITIF)

PADANG,KLIKPOSITIF-Kitab puisi berjudul Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa karya penyair muda asal Sumbar, Heru Joni Putra yang diluncurkan 12 Juli lalu di Taman Ismail mendapat apresiasi menarik dari praktisi dan penikmat sastra di Padang. Lewat sebuah ruang diskusi yang diberi tajuk "Anda Bertanya, Badrul Mustafa Menjawab" sekumpulan puisi yang ada dalam buku itu diungkap melalui berbagai sudut pandang.

Esha Tegar Putra penyair dan juga mahasiswa magister Sastra di Universitas Indonesia memaparkan pandangannya. Dalam pembacaan terhadap kitab ini, Esha menyebut dalam puisi-puisinya Heru memilih bersiasat dengan tradisi lisan Minangkabau. Artinya heru tidak meninggalkan tradisi bertutur berupa pantun, petatah petitih, secara mutlak, namuan menjadikannya dasar penciptaan puisinya. Hal ini terlihat sangat jelas, meski ada juga pengaruh dari luar Minangkabau.

"Dalam kitab Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa Heru mengikat secara longgar puisinya dengan tradisi lirisme Minangkabau yang berisi satir, ironi dan juga paradoks," ujar Esha saat bincang-bincang di Padang Senin, 7 Agustus sore.

Selain itu, kata Esha lagi, puisi karya Heru dibangun dengan pondasi pepatah petitih dan berbagai bentuk lain dari sastra lisan Minangkabau. Bisa juga disebut bahwa puisi puisi ini mengeibu pada tradisi bertutur lirisme Minangkabau dan juga ada unsur pengaruh dari luar.

"Heru mngambil bagian dasar dari lirisme Minangkabau dan mengembangkan bentuk baru," kata Esha.

Dari sudut pandang lain, Andesta Herli, mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya menilai puisi-puisi dalam kitab Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa mengambil dua posisi terhadap pantaun atau pepatah petitih Minangkabau. Heru melalui puisi-puisinya, kata Andesta, mengingkari pantun dan bentuk sastra lisan itu sekaligus memujanya.

Dua sikap ini ini setidaknya, menurut Andes, muncul dibeberapa puisi awal dalam kitab ... Baca halaman selanjutnya